" MEDIA ONLINE BYAZ SURYA DJAGAD TIDAK BERTANGGUNG JAWAB APABILA ADA YANG MENGAKU WARTAWAN DARI MEDIA INI YANG NAMANYA TIDAK TERCANTUM DALAM DAFTAR ANGGOTA REDAKSI DAN CREW YANG TIDAK MEMENUHI TUGAS JURNALISNYA AKAN DI HAPUS DARI DAFTAR ANGGOTA." " Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akhirnya memberikan mandat kepada Joko Widodo ( Jokowi) sebagai calon Presiden 2014." " Para penyelidik yang melakukan pencarian pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 kini punya kekhawatiran besar. Dikhawatirkan, pesawat yang hilang tersebut saat ini berada di bagian paling dasar Samudera."

Test Footer

BERITA TERBARU
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan

Pesona Keindahan Alas Purwo Banyuwangi

Written By Byaz.As on Rabu, 26 Februari 2014 | 11.00

SuryajagadNews.com – “ Jangan tinggalkan apapun kecuali telapak kaki dan jangan mengambil apapun kecuali foto “ 
Itulah tulisan yang terpampang di salah satu pintu masuk ke Alas Purwo. Sebuah pesan kuat bagi siapapun agar turut menjaga kelestarian hutan yang berusia sangat tua di ujung timur Pulau Jawa. Memiliki luas sekitar 43.420 hektar, hutan ini terus dijaga dan dilindungi dari tangan-tangan keji perusak alam. Alas Purwo merupakan hutan tropis alami dan termasuk yang tertua di Pulau Jawa. Letak wilayah Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur hanya dibatasi Selat Bali untuk "menyapa" tetangganya Kabupaten Jembrana, di Provinsi Bali. 

Posisi Kabupaten Banyuwangi hampir mirip dengan Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sama-sama mengapit Provinsi Bali yang sampai saat ini masih menjadi magnet kunjungan turis mancanegara. Posisi ini sangat potensial untuk menarik turis dari Bali untuk mampir ke Banyuwangi yang juga tak kalah indah. Lombok pun melakukan hal serupa.

Salah satunya Taman Nasional Alas Purwo dikenal juga sebagai hutan hujan paling alami di Indonesia, bahkan mungkin di Asia. Di Taman Nasional Alas Purwo, Anda dapat melihat banteng jawa, burung merak, babi hutan, rusa, dan hewan lainnya termasuk harimau jawa.

Ada pepohonan menjulang berukuran besar dengan umur ratusan tahun di sini. Pohon tersebut berdiameter rata-rata 30 cm dan tinggi 10-15 meter. Tanaman yang berhasil diidentifikasikan hingga 2002 ada sekitar 580 jenis. Anda akan menikmati indahnya hutan sawo kecik (manilkarakauki) dan bumbu manggong yang dominan. Pohon lainnya adalah nyamplung (calophyllum inophyllum), ketapang (terminalia cattapa), dan kepuh (stercullia foetida)

Untuk memperkenalkan taman wisata Alas Purwo dan tempat wisata lainnya ,pemerintah daerah Banyuwangi berupaya semaksimal mungkin mendatangkan wisatawan baik dari dalam dan luar negeri, pelayanan transportasi udara ikut menentukan. Kalau menuju Lombok, wisatawan bisa langsung terbang dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, bahkan menggunakan penerbangan langsung dari Singapura, Malaysia dan Australia. Namun untuk menuju Banyuwangi, wisatawan harus terbang ke Surabaya terlebih dahulu, lantas ganti pesawat melanjutkan penerbangan ke Banyuwangi.

Lima tahun lalu, wisatawan yang hendak menuju Banyuwangi harus menempuh jalur darat dari Surabaya dengan waktu tempuh 7-8 jam atau dari Denpasar 3-4 jam. Untuk wisatawan yang memiliki waktu libur pendek, datang ke Banyuwangi sangat tidak efisien untuk berwisata. Namun sekarang, kendala waktu itu sudah dipangkas dengan penerbangan dari Surabaya-Banyuwangi sekitar 45 menit. 
(Wiwik)

Keajaiban Tujuh Mata Air Di Lereng Gunung Lawu

Written By Byaz.As on Senin, 24 Februari 2014 | 09.00


SuryajagadNews.com Karanganyar - Wilayah dibawah kaki Gunung Lawu selain memiliki wisata alam luar biasa keindahannya, ternyata juga memilki keajaiban alam, serta keunikan tersendiri. salah satunya obyek wisata Sapta Tirta di Desa Pablengan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, tidak berkelebihan jika dikatakan sebagai salah satu keajaiban alam di bumi Indonesia. 

Sapta Tirta, sapta artinya tujuh, tirta artinya air. Sapta Tirta maksudnya, tujuh mata air. Uniknya, tujuh mata air tersebut berkumpul di satu areal sekitar 2 hektar. Jarak satu mata air yang satu dengan mata air yang lain, paling dekat kurang lebih 5 meter, paling jauh kira-kira 15 meter. Ke-7 mata air tersebut mengeluarkan air yang kandungan mineralnya satu sama lain berbeda.

Objek wisata alam ini terletak di jalan raya yang menghubungkan Karangpandan dan Astana (makam raja) Mangadeg Girilayu. Jarak Sapta Tirta dengan Kota Karanganyar, ibukota Kabupaten Karanganyar, sekitar 20 km. Objek wisata ini terletak di kaki Gunung Lawu berhawa sejuk, dengan latar belakang hutan pinus Argotiloso.


"Sapta Tirta ini mempunyai kaitan erat dengan sejarah perjuangan Pangeran Raden Mas Said melawan VOC, tahun 1741 sampai 1757", kata Sugeng, 32 tahun, salah seorang pengelola Sapta Tirta.


Dulu lokasi ini bekas benteng pertahanan Pangeran Raden Mas Said, yang karena saktinya, beliau mendapat julukan Pangeran Sambernyawa. VOC memang berhasil menduduki benteng itu. Lalu benteng diobrak-abrik rata dengan tanah. Tetapi Sapta Tirta tidak terusik sampai sekarang. Pangeran Sambernyawa mundur, tetapi terus gigih melawan pasukan tentara VOC. Sampai akhhirnya VOC kuwalahan menghadapi gerilya Pangeran Sambernyawa dan para pengikutnya.


Tanggal 17 Maret 1757 perlawanan Pangeran Sambernyawa berhenti. Tanggal itu terjadi perdamaian dan perjanjian, dihadiri oleh Raja Surakarta Hadiningrat Pakubuwana ke-III, Sultan Jogja, VOC, dan Pangeran Sambernyawa. Hasilnya, Pangeran Sambernyawa mendapat daerah otonomi atau Praja Mangkunegaran, dan beliau mendapat sebutan Kanjeng Gusti Pangeran Ario Adipati (KGPAA) Mangkunegara I.


SALAH satu peninggalan Pangeran Sambernyawa adalah tempat semedi (tafakur). Tempat tersebut berpagar besi, luasnya sekira 2 meter persegi. Tempat keramat tersebut tertulis kaligrafi huruf Jawa: ega. "Kepanjangan huruf ega adalah Eyang Gusti Aji alias Pangeran Sambernyawa, yang nama kecilnya Raden Mas Sahid", ujar Sugeng.


Sebenranya ada 8 sumber, yaitu sumber air tawar. Tetapi letaknya di bukit, di atas, tak jauh dari kompleks Sapta Tirta. Di kompleks ini disediakan mushola. Bangunan kuno yang lain, selain tempat semedi, adalah Pemandian Keputren. Dulu memang tempat mandi para puteri. Tempat ini juga keramat. Orang tidak boleh berlaku sembarangan. Kalau mau masuk atau mandi, harus seijin pengelola. Orang yang hendak berziarah ke makam raja-raja di Astana Mangadeg Giribangun, biasanya mandi dulu di Pemandian Keputren dan mohon ijin Pangeran Sambernyawa di petak semedi.

Ketujuh sumber air tersebut adalah:


1. Sumber Air Bleng. Airnya rasa asin. Biasanya orang mengambil air di sumber ini untuk membuat karak, atau semacam krupuk yang bahan bakunya dari beras atau nasi. Apakah harus membayar? Bayarnya jika mau masuk kompleks, Rp 3.000,- (Oktober 2009). Kalau mau ambil air bleng, tidak perlu bayar. Sumber air bleng ini tidak pernah kering, sejak jaman dulu sampai sekarang.


2. Sumber Air Hangat. Airnya memang hangat. Biasanya untuk mencucikan badan sekaligus untuk mengobati berbagai penyakit kulit, misalnya gatal-gatal. Juga bisa untuk mengobati rematik.


3. Sumber Air Kasekten. Kata kasekten dari kata sakti. Air dari sumber ini biasanya untuk kekuatan, kesehatan, atau untuk mensucikan jiwa raga.


4. Sumber Air Hidup. Air hidup boleh untuk mencuci muka. Bagi yang percaya, air hidup bisa membuat wajah tampak awet muda. Ada pula yang mengambil air ini untuk bagian dari upacara pernikahan.


5. Sumber Air Mati. Air yang keluar dari sumber ini dilarang keras untuk dibuat cuci muka, cuci tangan, apalagi untuk minum. Air di sumber ini mengandung mineral yang berbahaya jika diminum (CO2?). Sumber Air Mati tidak pernah bertambah atau berkurang, dari jaman dulu sampai saat ini.


6. Sumber Air Soda. Jika air dari sumber ini diminum, terasa rasa soda. Konon air soda Sapta Tirta bisa untuk obat berbagai penyakit dalam, misalnya sakit ginjal, lever, gula, juga TBC.


7. Sumber Air Urus-urus. Air dari sumber ini dapat dijadikan urus-urus atau cuci perut, atau memperlancar buang air besar.

 
Sapta Tirta, salah satu wisata alam yang "ajaib". Saat ini, Sapta Tirta terus dibangun dan dikembangkan, disesuaikan dengan selera konsumennya. Misalnya ditambah dengan panggung terbuka dan flyng fox buat meluncur dari atas bukit. Suatu permainan baru yang banyak digemari kaum remaja.

Sapta Tirta buka mulai pukul 8 pagi sampai sore hari. Tetapi bagi mereka yang datang setiap waktu, misalnya malam hari, pengelola selalu siap melayani. Perlu diketahui, kompleks ini sering dijadikan "menyepi dan semedi" di kala malam hari. Pengunjung tidak hanya dari Pulau Jawa, tetapi juga ada yang datang dari luar Jawa. Bahkan, ada yang datang dari manca negara, tetapi umumnya, mereka dari suku Jawa. Atau masih keturunan, atau "trah" KGPAA Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa.(Sumber)

Paus Raksasa Terdampar Di Pantai Minahasa

Written By Byaz.As on Kamis, 13 Februari 2014 | 17.00

Suryajagad.com - Warga sekitar pantai Tambala kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa digegerkan dengan terdamparnya seekor ikan Paus raksasa dengan berat hampir mencapai 40 ton, panjang 30 meter (13/02/14). Menurut warga, mamalia malang tersebut telah dua hari berada di perairan sekitar, namun baru hari ini terseret ke pinggiran pantai.

"Hari ini baru terseret arus ke pinggir pantai. Kemarin masih di tengah laut. Tapi memang sudah mati," tutur Udin Rosidin, warga sekitar.


Kondisi paus tersebut sangat memprihatinkan. Dalam kutipan Merdeka.com dijelakan kalau Lapisan kulit atas terlihat gosong akibat sengatan matahari. Beberapa bagian tubuhnya terdapat luka bekas sayatan benda tajam. Diduga warga telah memanfaatkan bagian lemak makhluk laut yang dilindungi tersebut.


Belum diketahui penyebab kematian paus yang hingga kini masih menjadi tontonan ratusan warga sekitar. Mereka silih berganti mendatangi lokasi untuk menyaksikan pemandangan langka ini.


"Kapan lagi lihat paus sebesar ini
 dan ada sebagian warga yang mengambil bagian tubuhnya untuk dijadikan minyak obat " ujar Rosidin saat menyewa jasa perahu untuk melihat lebih dekat paus putih ini.

Beberapa kapal kecil milik lokasi wisata Tasik Ria resort terlihat mendekat. Tiga orang penyelam terjun ke laut dan mengitari jasad paus. Tak jelas apa yang dilakukan mereka.

Sementara, jalan utama Manado-Tanawangko terpaksa mengalami kemacetan akibat banyaknya warga yang memadati jalan sekitar lokasi. Petugas kepolisian harus bekerja ekstra keras untuk mengatur arus lalu lintas agar dapat berjalan lancar. (Sumber)

Wisata Religi Pesanggrahan Srigati

Written By Byaz.As on Minggu, 26 Januari 2014 | 10.30


Suryajagad.com - Siapkan mental dan nyali anda bila ingin mengunjungi tempat wisata yang terletak di Desa Babadan Paron, sekitar 12 kilometer arah barat Kota Ngawi, Jawa Timur. sesuai namanya, konon Pesanggrahan Srigati Alas Ketonggo adalah tempat peristirahatan Raja Brawijaya, Kerajaan Majapahit. Konon Presiden Sukarno pun kerap bertapa di tempat yang diyakini sebagai pusat keraton lelembut atau mahluk halus itu.

Di Pesanggrahan Srigati alas Ketonggo, terdapat beberapa lokasi yang diyakini kramat yaitu Selodakan, Sendang Drajat,Palenggahan atau tempat bersemedi Agung Srigati, dan Palenggahan Sukarno. Selain itu, ada juga tempat pemandian Sendang Tempuran Silogonggo.

Pesanggrahan Srigati Alas Ketonggo ini, Konon dulunya adalah tempat peristirahatan Prabu Brawijaya V setelah lari dari kerajaan Majapahit karena kerajaan diserbu oleh bala tentara Demak dibawah pimpinan Raden Patah.

Dalam perjalananya ke Gunung Lawu, Prabu Brawijaya V melepas semua tanda kebesaran kerajaan (jubah, mahkota, dan semua benda Pusaka) di pesanggrahan Srigati, namun kesemuanya raib atau mukso.

Di dalam Alas Ketonggo ini terdapat berbagai benda-benda yang secara simbolik melambangkan kebesaran Kerajaan Majapahit, baik berupa mahkota raja, tombak pusaka, gong, dan lain-lainnya.

Obyek wisata spiritual Alas Ketonggo konon sebagian masyarakat yang menganggap Alas Ketonggo sebagai pusat keraton lelembut atau makhluk halus, dikukuhkan dengan banyaknya tempat-tempat pertapaan yang mistik dan sakral.

Di Alas Ketonggo terdapat lebih dari 10 tempat pertapaan. Mulai dari Pesanggrahan Agung Srigati, Pundhen Watu Dhakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Pundhen Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sendang Mintowiji, Kori Gapit, dan Pesanggrahan Soekarno.

Bila anda penasaran datang dan kunjungi wisata religi pesanggrahan Srigati Alas Ketonggo, anda akan dimanjakan dengan suasana keasrian alam yang sangat exsotis serta menawan. (Byaz)

Hipnotis Masuk Desa

Written By Byaz.As on Selasa, 14 Januari 2014 | 09.00

Suryajagad.com - Hipnosis adalah suatu kondisi mental (menurut state theory) atau diberlakukannya peran imajinatif (menurut non-state theory) Orang yang melakukan proses hipnosis (memberikan sugesti) terhadap subjek disebut hipnotis(bahasa inggris:hypnotist). Hipnosis biasanya disebabkan oleh prosedur yang dikenal sebagai induksi hipnosis, yang umumnya terdiri dari rangkaian panjang instruksi awal dan sugesti. Sugesti hipnosis dapat disampaikan oleh seorang hipnotis di hadapan subjek, atau mungkin dilakukan sendiri oleh subjek (Self-hipnosis). 

Penggunaan hipnosis untuk terapi disebut hipnoterapi sedangkan penggunaannya sebagai bentuk hiburan bagi penonton dikenal sebagai Stage hipnosis.

Untuk belajar cepat Hipnotis Media Online www.suryajagad.com mengadakan acara Hipnotis Masuk Desa (13/01/2014) di Desa Banjaransari silahkan lihat tayangan videonya KLIK DISINI .
Apa yang bisa dicapai dengan Hipnotis?

- Pengembangan diri: mengubah perilaku buruk, tampil percaya diri dan lain-lain.
- Meningkatkan prestasi dalam pekerjaan, sekolah dan olah raga
- Menghentikan kebiasaan buruk seperti merokok, makan berlebihan dan lain-lain.
- Menghilangkan rasa sakit dan mempercepat proses penyembuhan
- Terapi untuk menghilangkan stress, depresi, trauma dan phobia
- Belajar dengan cepat serta meningkatkan daya ingat dan kreatifitas
- Atraksi panggung (Stage Hipnotis)
- Meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan mempengaruhi orang.

Anda tertarik, bisa menghubungi Media ini untuk bisa belajar cepat Hipnotis. ( Byaz )

Silahkan lihat tayangan atraksi hipnotis masuk desa....

Exspidisi Pesona Waduk Pondok

Written By Byaz.As on Selasa, 07 Januari 2014 | 10.00

Suryajagad.com - Waduk pondok yang berada di timur kota Ngawi  mempunyai pesona yang sangat menarik dan indah tak kalah dengan tempat wisata di Jawa Timur. Bukan hanya wisata air, namun pemandangan yang menakjubkan yang berasal datu hutan jati, mahoni dan batuan kapur ini sangat indah mengelilingi waduk , tempat ini cocok untuk yang gemar fotografi. 
Obyek wisata bendungan Waduk Pondok ini memiliki luas 2.596 hektar. Selain sebagai sarana irigasi dan pembangkit tenaga listrik sangat cocok untuk digunakan obyek wisata keluarga.Waduk Pondok ini adalah kekayaan alam yang masih ‘perawan’ dan eksotis. Dan daerah ini belum dirusak oleh masyarakat sekitar. 

Waduk Pondok sampai saat ini menjadi surga tersembunyi di daerah Ngawi. Dan pada hari Minggu (5/1/2013) Lembaga ELC ( Edelweiss Lawu Center ) melakukan exspidisi menaiki perahu mengelilingi waduk tersebut. (Byaz)

Silahkan klik video exspidisi team ELC (Edelweiss Lawu Center) di Waduk Pondok......

Mengenalkan Kesenian Tradisional Sejak Usia Dini

Written By Byaz.As on Senin, 23 Desember 2013 | 07.00

Suryajagad.com Tuban - Dalam mengisi liburan panjang  guru SDN V Rengel, mengenalkan kesenian tradisional kepada anak-anak didiknya di sanggar Tari Sekar Gumelar yang bertempat di Desa Sawahan Kec Rengel Kab Tuban Jawa Timur.

" Mengenalkan maupun mengajarkan tari tradisional harus sejak dini diajarkan. Dalam pengenalan terhadap kesenian tradisional sebaiknya dimasukkan ke dalam pembelajaran di sekolah dalam bentuk muatan lokal," Ujar Andayani.

 Ditambahkn lagi “ Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud harus serius menanamkan rasa cinta terhadap kesenian tradisional pada anak-anak. Bukan melalui sanggar, tapi melalui pembelajaran di sekolah,”  Kata Aany sapaan akrab guru tersebut (22/12/2013).

Menurut  Aany, " mata pelajaran muatan lokal di sekolah saat ini jarang yang mengajarkan siswa untuk mengenal kesenian tradisional.Kurangnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional, dikatakannya, disebabkan karena tidak adanya pihak yang memberikan pengenalan budaya lokal sejak dini terhadap anak-anak." Tandasnya.

Dalam rangka untuk menampung bakat-bakat terpendam generasi muda maka Kusni dan teman-teman pensiunan guru lainnya mendirikan sanggar seni yang bernama "Sanggar Tari Sekar Gumelar". Sanggar tersebut berada di Desa Sawahan Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban Jawa Timur.Sanggar tari ini berdiri sejak bulan Mei tahun 2013 lalu. Filosofi Kata Sekar berarti kembang atau bunga,sedangkan kata Gumelar berarti kemana mana.

Diharapkan dengan berdirinya Sanggar Sekar Gumelar dapat di kenal di mana-mana. Walaupun baru berdiri  Sanggar Tari Sekar Gumelar sudah memiliki 135 siswa dan telah mampu mengadakan pentas seni di berbagai wilayah Kabupaten Tuban. Sanggar Tari Sekar Gumelar yang di ketuai oleh  Kusni,S.Pd ini mengadaka latihan secara rutin tiap hari Jumat dan Minggu .

Saat istirahat dalam melatih anak-anak didiknya kusni  menjelaskan ke media ini, bahwasanya untuk mengadakan latihan kesenian Tari tradisional tersebut setiap latihan semua siswa dibebani biaya iuran sebesar  Rp.3000 (tiga ribu rupiah) dan memilih balai desa Sawahan, Rengel Tuban dijadikan tempat latihan sekaligus markas sanggar tari tersebut.

“ Tujuan kami mendirikan Sanggar Tari Sekar Gumelar ini untuk melestarikan budaya bangsa dan berusaha untuk menanggulangi masuknya budaya yang tidak sesuai dengan kepribadian anak-anak bangsa Indonesia, " kata Mustain salah seorang pelatih sanggar.

Di tambahkan lagi , “ Tari yang diajarkan di Sanggar Sekar Gumelar terdiri dari tari klasik dan kreasi baru, Tari klasik antara lain Gambyong, Remo, Gambir Anom, Gathotkaca Gandrung, dan Bambangan Cakil yang semuanya itu diajarkan untuk kalangan umum. Sedangkan untuk tari kreasi baru antara lain Sri Panganti untuk anak usia TK sampai kelas 6 SD, Candi Ayu untuk anak SMP sampai SMA dan Ula-ulaan/ ular-ularan untuk anak usia TK sampai kelas 5 SD ,” Jelas Mustain.(Any)

  
          Redaksi@Suryajagad.Com

Permainan Tradisional Menumbuhkan Imajinasi Anak

Written By Byaz.As on Sabtu, 21 Desember 2013 | 15.00

Suryajagad.com Tuban - Ujian akhir sekolah atau yang biasa disebut dengan UAS telah berakhir sejak beberapa hari yang lalu dan untuk penyegaran otak setelah berkutat dengan ulangan selama hampir satu minggu lamanya tersebut, guru olahraga SDN Rengel V Gitono S.Pd dengan dibantu oleh guru lainnya mengadakan perlombaan Renang ,Joged dan lomba permainan tradisional gobag sodor (21/12/2013)

Gobak sodor adalah jenis permainan daerah yang hanya ada di Indonesia. Permainan dilakukan dengan model sistem grup yang dibagi dalam dua grup. Masing-Masing grup terdiri dari 3-5 orang.

Inti dalam permainan ini adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan. permainan ini sangat mengasyikan dan bisa untuk melatih ketangkasan, strategi, kecepatan, dan kecerdikan.



Dalam acara ini anak-anak SDN Rengel sangat antusias memainkannya. Kemeriahan dalam permainan ini juga untuk mengenalkan kembali permainan tradisional Indonesia. Sebab sekarang ini yang memainkan permainan ini sangat jarang ditemui, bahkan anak-anak sekarang juga jarang terlihat memainkannya. 

Prakarsa lomba permainan tradisional yang di ketuai guru olahraga tersebut menjelaskan ke media ini, Bahwasanya acara lomba permainan tradisional Gobak Sodor ini untuk mengenalkan kembali ke anak-anak permainan tradisional yang mulai tergeser  dengan permainan modern.

Kata ragnarok, doom, redneck rampage, quake, mario, dan berbagai istilah lain yang terasa asing dan kering di telinga orang dewasa sekarang justru “membasahi” jiwa anak-anak Indonesia.
Anak-anak tersebut ketagihan main play station (PS) dan aplikasi game di ponsel pintar dan tablet. Tidak terbayang bagaimana kemudian imajinasi anak-anak dipenuhi adegan kekerasan, individualistis, serta agresivitas untuk mematikan lawan mainnya.

“ Lomba permainan tradisional Gobak Sodor ini sering kami lakukan setelah UAS maupun dalam pelajaran olahraga,di samping ingin membuat rilex anak-anak setelah menghadapi UAS juga mengenalkan ke mereka untuk melestarikan permainan tradisional agar imajinasi anak-anak tidak dipenuhi dengan adegan kekerasan ,” Jelas Gitono.

Sementara itu disela waktu istirahat permainan Gobak sodor siswi  kelas 6 SDN Rengel tersebut sangat senang dan menikmati permainan ini. “ Saya sangat Senang sekali mengikuti lomba permainan Gobak Sodor dan berharap acara seperti ini sering di lakukan," Tutur Cindi . ( Any )

             Redaksi@Suryajagad.Com

Jet Ski Menambah Pesona Waduk Pondok

Written By Byaz.As on Kamis, 12 Desember 2013 | 06.00

Bupati Ngawi Ir.Budi Sulistiyono Sangat Piawai Mengendarai Jet Ski
Suryajagad.com – Waduk pondok yang berada di timur kota Ngawi  mempunyai pesona yang sangat menarik dan indah tak kalah dengan tempat wisata di Jawa Timur. Bukan hanya wisata air, namun pemandangan yang menakjubkan yang berasal datu hutan jati, mahoni dan batuan kapur ini sangat indah mengelilingi waduk , tempat ini cocok untuk yang gemar fotografi. 

Obyek wisata bendungan Waduk Pondok ini memiliki luas 2.596 hektar. Selain sebagai sarana irigasi dan pembangkit tenaga listrik sangat cocok untuk digunakan obyek wisata keluarga.Waduk Pondok ini adalah kekayaan alam yang masih ‘perawan’ dan eksotis. Dan daerah ini belum dirusak oleh masyarakat sekitar. 

Bupati Ngawi Ir.Budi Sulitiyono Menikmati Olah Raga Jet Ski Di Waduk Pondok
Waduk Pondok sampai saat ini menjadi surga tersembunyi di daerah Ngawi. Dan untuk mengenalkan dan mengangkat pesona wisata waduk pondok tersebut, Bupati Ngawi Ir. Budi Sulistiyono beserta rombongan dan Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olah Raga (Dispariyapura) Kabupaten Ngawi Rabu (11/12/2013 ) mengadakan latihan olah raga Jet Ski.

Kepala Dispariyapura Ngawi, Eko Purnomo saat berbincang dengan media ini menjelaskan, bahwasanya latihan olah raga Jet Ski ini bertujuan untuk menarik wisatawan dan menjadikan waduk pondok ini pilihan tempat untuk berlibur.

“ Waduk pondok ini sangat cocok di jadikan icon wisata Ngawi setelah museum trinil, kami berusaha untuk mengemas agar lebih menarik dengan mengadakan event seperti ini, tidak hanya olah raga jet ski yang akan kami kemas untuk kedepannya namun olah raga para motor layang, lomba dayung sampan kemungkinan juga bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk menyediakan kuda bagi para wisatawan yang berkunjung ke waduk ini , “ Jelasnya. ( Byaz )

Situs Gunung Padang Cianjur Lebih Canggih Dan Lebih Tua Dari Pyramid Mesir

Written By Byaz.As on Sabtu, 07 Desember 2013 | 07.30

CIANJUR - Penemuan Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, cukup mengejutkan berbagai kalangan masyarakat, khususnya para peneliti arkeologi. Pasalnya, berdasarkan penelitian, situs ini diperkirakan berusia sekitar 13.000 tahun.
Itu artinya, peradaban di Situs Gunung Padang lebih tua dari peradaban Mesopotamia dan Pyramid Giza di Mesir, yang selama ini dipercaya sebagai peradaban tertua di dunia. Sehingga temuan Situs Gunung Padang yang hingga saat ini masih dalam proses penelitian tersebut, bisa mengubah peta peradaban dunia.

Berita yang di lansir Voaindonesia.com menjelaskan bahwa penelitian mengenai Situs Gunung Padang dilakukan sejak November 2011. Setelah diteliti selama hampir dua tahun hingga sekarang, diketahui bahwa Situs Gunung Padang bukanlah sebuah situs yang sederhana, melainkan sebuah monumen yang sangat besar. Situs ini diperkirakan luasnya mencapai 10 kali luas Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Susunan batu tersebut mirip dengan teknologi Situs Machu Pichu di Peru. Menurut Danny, yang lebih mengejutkan dari penemuan Situs Gunung Padang ini yaitu umur susunan batu yang berbeda-beda dari setiap lapisannya.


Lapisan teratas berumur lebih muda, yaitu 500 tahun Sebelum Masehi, ada pula lapisan yang berumur 7.000 tahun Sebelum Masehi. Bahkan, jika dihitung hingga lapisan terbawah, Situs Gunung Padang diperkirakan usianya sekitar 13 ribu tahun.

“Gunung Padang itu suatu monumen yang besar. Punden berundaknya yang lapisan pertamanya itu tingginya sampai 100 meteran, jadi luasnya 150 hektar, yang jelas 10 kali lebih besar dari bangunan Candi Borobudur.
Dibilang menunjukkan umurnya lebih dari 13 ribu tahun itu sudah ada sekitar 3 atau 4 carbon dating (pengukuran umur lapisan berdasarkan kandungan unsur karbon di lapisan tersebut—red) yang kita lakukan di peta analisis,” papar Danny Natawidjaja.

Situs Gunung Padang dapat dikatakan sebagai situs peradaban tertua di dunia, melebihi Pyramid Giza di Mesir, peradaban Mesopotamia, dan peradaban bangsa Arya, yang usianya antara 2.500 hingga 4.000 tahun Sebelum Masehi. Sehingga dengan demikian, keberadaan Situs Gunung Padang secara otomatis bisa mengubah peta peradaban dunia.

Peradaban dunia yang dikenal manusia majunya baru sekitar 6.000 tahun, Mesopotamia, kemudian yang di Mesir, (Piramida) Giza itu, yang 2.500-2.800 tahun Sebelum Masehi. Itu yang dianggap sebagai peradaban tertua di dunia. Gunung Padang usianya 13.000 tahun, tumbang semua. Itu  akan menjadikan Indonesia  pusat peradaban di masa lalu.

Hingga saat ini, para peneliti yang tergabung dalam Tim Peneliti Mandiri Terpadu Gunung Padang masih melakukan penelitian dan ekskavasi atau penggalian terhadap Situs Gunung Padang. Pengelolaan Situs Gunung Padang saat ini berada di bawah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala  atau BP3, Unit Pelaksana Teknis dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia yang berada di daerah. ( Sumber )
             Redaksi@Suryajagad.Com

Empu Di Abad 12 Menggunakan Meteor Mengandung Titanium Menjadi Bahan Keris

Written By Byaz.As on Jumat, 06 Desember 2013 | 07.00


Suryajagad.com - Para empu di Jawa sejak abad 12-13 diyakini telah menggunakan meteor sebagai bahan pembuat keris, tombak, dan pedang. Dipilihnya meteor oleh para empu keris, disebabkan di dalam meteor mengandung unsur titanium.

Sumber informasi yang di rilis forum.vivi.co.id, menurut Kanjeng Benny Hatmantoro, senior perkerisan dari Forum Bawa Rasa Tosan Aji Soedjatmoko Surakarta, tiga orang sarjana fisika nuklir Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Yogyakarta yakni Haryono Arumbinang MSc, Dr Sudyartomo Suntono dan Dr Budi Santoso mengadakan penelitian tentang kandungan logam pada pusaka Jawa.
Penelitian dilakukan dengan metode dan peralatan mutakhir. Dari penelitian tersebut bahan meteor dalam hal ini titanium yang paling banyak adalah keris-keris di era Mataram Sultan Agung sekitar abad ke-16. 

Benny menjelaskan, penelitian lain yang dilakukan oleh Prof Dr Ir Mardjono Siswosuwarno yang juga dosen Materialis Engineering (Teknik Material) Institut Teknologi Bandung cukup menguatkan bahan baku keris khususnya di era Majapahit dan Mataram Sultan Agung adalah banyak menggunakan bahan meteor.


Dari mana para empu-empu mendapatkan meteor sebagai bahan material keris, tombak dan pedang. "Para empu jaman dulu suka melekan (tirakatan) dan banyak melihat langit, di saat ada batu meteor jatuh maka mereka memburunya pencarian melalui metode penyelarasan dengan alam/ transformasi alam.
Metode meditasi atau lelaku bagi para empu di Jawa adalah suatu metode konvensional untuk mendeteksi dan memilih logam," ujar Benny. Metode yang dilakukan para Empu kala itu  mereka meyakini selain memiliki kandungan yang hebat, bahan dari langit tersebut memiliki kekuatan alam yang luar biasa
Empu Keris di Jawa zaman dahulu memiliki kelebihan sudah bisa memilih dan serta menentukan 19 jenis logam terbaik sebagai bahan untuk dibuat keris dan 17 jenis besi yang kurang baik sebagai bahan membuat keris.

Para empu diyakini tidak sulit mencari batu meteor mengingat Jawa tercatat sering kejatuhan meteor. Dalam Catalogue of Meteorites dijelaskan, pernah jatuh meteorit Jatipengilon di Alastoewa, Madiun pada 19 Maret 1884. Berat meteor Jatipengilon mencapai 166 kg. Saat jatuh, meteor Jatipengilon melesak tiga meter ke dalam bumi. 

Dari data Javier de la Torre, cofounder Vizzuality dan CartoDB, didapat peta intensitas jatuhnya meteor di bumi. Dari peta tersebut terlihat Pulau Jawa kerap menjadi lokasi jatuhnya meteor. 
( Sumber )

          Redaksi@Suryajagad.Com

Sisi Lain Keindahan Umbul Jambe Alas Ketonggo

Written By Byaz.As on Minggu, 24 November 2013 | 18.00

Jembatan Gantung Menuju Tempat Umbul Jambe

Ngawi- Ada sisi lain terjadi di umbul Jambe Alas Ketonggo yang berada di Desa Babadan Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi Jawa Timur, keindahan serta keasrian alamnya masih sangat terasa. Minggu (24/11/2013) saat media ini mengunjungi tempat tersebut menjumpai rombongan dari Kabupaten Purwodadi , Semarang, Solo serta masyarakat sekitar wilayah Ngawi nampak sangat menikmati panorama pemandangan di sekitar tempat Umbul Jambe tersebut.

" sungguh luar biasa pemandangan dan keasrian tempat ini,sebelumnya di pikiran kami Umbul Jambe Alas Ketonggo adalah tempat yang sangat angker dan penuh aroma mistis namun setelah sampai di sini meleset dugaan kami, namun yang kuarang prasarana jalan menuju masuk perlu untuk di tata dan perbaiki , " Ujar Tarto ketua rombongan asal semarang.


Pintu Masuk Menuju Umbul Jambe

Rombongan Dari Solo Saat Menyeberang Lewat Jembatan Gantung Umbul Jambe
Dua Patung Singa Nampak Gagah Di Ujung Jembatan Gantung Umbul Jambe
Tugu Persatuan Umat Umbul Jambe
Pintu Gerbang Siti Inggil Tempat Petilasan Prabu Brawijaya Majapahit
Nampak pemandangan Dari Atas Jembatan Gantung Umbul Jambe
Saung Untuk Bersantai Di Pinggir Sungai Umbul Jambe
Taman Depan Tugu Persatuan Umat Terta Sangat Rapi Dan Sangat Menarik Untuk Bersantai







Umbul Jambe bisa jadi tempat pilihan kunjungan wisata liburan yang tepat bagi anda semua. (Byaz)

Dua Puluh Tiga Turis Jerman Kagumi Wisata Ngawi

Written By Byaz.As on Selasa, 19 November 2013 | 07.00

Ngawi- Memperkenalkan budaya  Indonesia  ke dunia International sudah menjadi tugas kita semua  sebagai bangsa Indonesia yang baik. Jadi tugas ini bukan saja menjadi tugas pemerintah melainkan semua elemen masyarakat harus ikut serta supaya usaha tersebut di lakukan sebagai wujud cinta tanah air kepada bangsa Indonesia.

Seperti yang kita ketahui bahawa Indonesia adalah bangsa yang memilik beragam seni dan budaya oleh sebab itu tugas anak bangsa adalah mengoptimalkan potensi yang ada salah satunya memperkenalkan kepariwisataan alam dan budaya yang tidak di miliki Negara lain ke kancah International.

Ngawi wilayah provinsi Jawa Timur paling ujung barat yang memiliki  potensi wisata dan budaya yang wilayah lain tidak memiliki mulai di lirik dan di datangi wisatawan manca Negara. Senin (18/11/2013) rombongan wisatawan asal Negara Jerman sejumlah 23 orang datang dan mengagumi keberadaan tempat wisata yang berada di bumi Orek-Orek.

Di bawah kawalan pemandu wisata Heri Ristiawanto, sebanyak 23 turis dari Negeri Hitler itu diajak singgah ke RM Notosuman Conevention & Restourant di Jl. Raya Solo, KM 4, Ngawi. Sebagai partner, melalui Sugiyanto mantan direktur RM Notosuman menyuguhkan sajian menu masakan yang khas Ngawi.

“ Masakan dan makanan Ngawi sungguh nikmat dan luar biasa enaknya dan yang pasti kami akan merindukan makanan ini ,” Ujar Jurgen salah satu wisatawan asal Jerman tersebut .

Seusai menikamti makan siang di RM.Notosuman rombongan wisatawan dari jerman tersebut di ajak mampir ke Pendopo Widya Graha untuk menyaksikan pentas seni wayang kulit yang di bawakan oleh dalang cilik. Rombongan turis tersebut tanpa canggung duduk lesehan berbaur dengan para penonton lainnya dengan serius menyaksikan pertunjukan wayang kulit , “ Wooww luar biasa begitu piawainya anak-anak ini memainkan gamelan ini dan sangat jago dalam memainkan wayang kulit ,” Ungkap Micheil


Setelah selesai menyaksikan kepiawaian para pengrawit cilik dalam menabuh gamelan dan dalang cilik dalam memainkan wayang, rombongan diajak ke Benteng Pendem Van Den Bosch. Para turis yang diboyong menggunakan mobil antik Volkswagen komunitas VW Ngawi, mereka terlihat kagum dengan kekokohan benteng peninggalan penjajah Belanda yang sudah berumur ratusan tahun tersebut. 

Didampingi dimas dan diajeng duta wisata Ngawi, rombongan turis diajak muter-muter keliling Benteng Pendem.  Terlihat penasaran   wisatawan asal Jerman ini.

“ Saya sangat kagum dengan keberadan bangunan benteng ini, nampak jelas kekokohan bangunan ini. Kontruksi bangunan yang begitu hebat, saya membayangkan wujud dahulunya seperti apa indahnya, sungguh kunjungan yang tak terlupakan dan sesampai di Negara kami nanti akan menceritakan keberadaan benteng Van Den Bosch ke teman-teman dan pasti akan merindukan tempat ini,” ungkap turis jangkung saat di wawancarai media ini. (Byaz)

                        Redaksi@Suryajagad.com

Ngawi Layak Menjadi Kota Tujuan Wisata

Written By Byaz.As on Minggu, 13 Oktober 2013 | 17.00

Ngawi- Bumi orek-orek atau Kabupaten Ngawi yang terletak di  provinsi Jawa timur paling barat ini meski berpridikat Kabupaten yang sangat kecil namun menyimpan beragam budaya yang sangat potensial dan sudah terkenal seantero dunia. Mulai dari tempat-tempat wisata dan seni budaya yang asli milik Ngawi, kalau untuk tempat wisata yang layak untuk di kunjungi ada Air Terjun Pengantin, Air Terjun Suwono, Air Terjun Srambang, Perkebunan Teh Jamus, Waduk Pondok, Waduk Sangiran, Benteng Pendem (van den bosch), Taman Wisata Pemandian Tawun yang terkenal dengan budaya nyadran Keduk Beji, Alas Ketonggo Srigati, Umbul Jambe dan yang sangat menonjol dan menjadi icon Kabupaten Ngawi Museum Trinil serta masih banyak lagi tempat wisata Ngawi yang belum tersentuh publik dan sangat potensi untuk di gali serta di lestarikan.

Museum Trinil, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, Indonesia. Museum Trinil atau Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Berjarak 14 km dari Kota Ngawi ke arah Barat Daya, pada km 10 jalan Raya Ngawi, Solo. Ada pertigaan belok ke arah Utara. Sepanjang 3 km perjalanan baru sampai pada museum Trinil. Letaknya sendiri di pinggiran kali Bengawan Solo, dan layaknya situs-situs kepurbakalaan yang ada di tanah air memang cenderung di pinggiran sungai. Seperti halnya situs Sangiran atau situs Sambung Macan Sragen juga di Bantaran Sungai Bengawan Solo. 



 Di sebelah Barat Daya di halaman museum terdapat bangunan berupa monumen yang didirikan oleh Eugene Dubois yang pertama kali menemukan situs ini. Di monumen itu dituliskan angka tahun pertama kali penemuan fosil manusia purba yang diberi nama Pithethropus Erectus di samping manusia purba di dalam museum sendiri juga banyak ditemukan berbagai macam fosil binatang purba, yang paling terkenal adalah ditemukan gading gajah purba yang sangat besar jika dibandingkan dengan ukuran gading gajah biasa. Manusia purba ini diperkirakan berada pada zaman pleistosin tengah atau satu juta tahun yang lalu.

Untuk melestarikan dan mengenalkan ke public terutama generasi penerus,  Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda  dan Olah Raga  Kabupaten Ngawi di setiap hari minggu mengadakan pagelaran Wayang Kulit Dalang cilik  di Aula Pendopo Museum Trinil tersebut.




Minggu (13/10/2013) media ini menelusuri lebih detail semua kawasan museum Trinil , mulai dari luar dan dalam lokasi museum tersebut  memang sangat potensi serta strategis dan perlu pembenahan serta pelebaran wilyahnya baik dari tempat parkir, di tambah arena bermain anak-anak, mungkin bisa di adakan kebun binatang serta stan-stan makanan khas Ngawi ataupun produk-produk asli buatan Ngawi.

Menengok lebih  dalam Museum  Trinil tersebut media ini sangat tercengang dengan kondisi plafon atapnya yang mulai rapuh serta banyak yang sudah jebol sangat membahayakan baik pengunjung maupun fosil-fosil di bawahnya, yang perlu di waspadai jika musim hujan tiba kalau sampai bocor gentengnya. Sangat di harapkan dari Dinas terkait untuk memperhatikan masalah ini jangan sampai hal-hal yang tidak di inginkan terjadi apalagi belakangan ini maraknya pencurian benda-benda purbakala di Museum.

Untuk menjaga dan melestarikan cagar budaya Nasional ini butuh peran serta semua lapisan masyarakat bukan hanya dari Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga terkait kebersihan, keamanan serta keramah tamahan warga Ngawi yang menjadi ciri khasnya yang selalu  menjunjung tinggi nilai kebersamaan kegotong royongan. (Byaz)

Taman Wisata Tawun Saatnya Di Rehab Total

Written By Byaz.As on Sabtu, 21 September 2013 | 15.00

Ngawi- Keindahan sudah tidak Nampak lagi di taman wisata Tawun Kabupaten Ngawi , hampir di semua sudut area wisata tersebut sangat minim perawatan, mulai dari kebersihan yang kurang di perhatikan,area bermain anak-anak yang sudah karatan, jembatan-jembatan penyeberangan yang juga sudah rusak dan rapuh apalagi diganti dengan lembaran tong-tong yang berkarat ,gubuk-gubuk tempat berteduh wisatawan yang sudah rapuh dan sudah tidak layak lagi untuk di tempati.

Apalagi di sebelah kolam kura-kura ada gedung yang sudah rapuh dan gentengnyapun mau berjatuhan sangat mengkhawatirkan bila pengunjung lewat di bawahnya dan dari pihak pengelola hanya memasang tulisan peringatan untuk hati-hati bila melewati arial ini.


Taman wisata Tawun kalau di kelola dengan maksimal lagi akan jadi tempat tujuan wisatawan ,apalagi tempatnya yang strategis di timur wilayah Kota Ngawi, namun sangat berbeda penampilannya antara Tawun Yang dahulu yang masih di pegang dari pihak swasta sangat indah dan menjadi tempat pilihan berlibur warga masyarakat baik dari wilyah Ngawi maupun luar wilayah Ngawi.

Saat ada acara besih desa atau lebih di kenal (nyadran) Keduk Beji pada (25/06/13) Ritual Tahunan Keduk Beji Di Sendang Tawun
waktu lalu penampilan dari Taman wisata Tawun masih sama dengan yang sekarang , Sabtu (21/09/2013) media ini melakukan investigasi ke lokasi tempat wisata tersebut  belum ada perbaikan maupun pembenahan , banyak pengunjung yang mengeluh dan kecewa, “ kami rombongan dari Madiun penasaran dengan Tempat wisata Tawun ini sepuluh tahun yang lalu pernah kesini tempatnya sangat indah dan menawan , tapi sekarang sangat berbeda seakan tidak ada perawatan ,mohon untuk dinas terkait untuk di perhatikan masalah ini ,” jelas dari pengunjung yang minta di sembunyikan identitasnya.(Byaz)



            Redaksi@Suryajagad.com
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : FB REDAKSI | IN TV | CV KOMBIS SOLID
Copyright © 2011. BSDJ TV - All Rights Reserved
Template Created by MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad